Headlines News :
Showing posts with label Info Alutsista. Show all posts
Showing posts with label Info Alutsista. Show all posts

PT PAL dan ITS bangun Kapal Selam Indonesia

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 10:39
ilustrasi kapal selam (bukan gambar sebenarnya)
PT PAL bersama ITS berencana mengembangkan Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista) dengan membangun sebuah proyek kapal selam nasional. Terobosan PT PAL yang patut diacungi jempol setelah bertahun-tahun pasca era Orde Baru terkesan tiarap.
Komitmen bersama antara ITS dan PT PAL dalam membangun kapal selam nasional dikukuhkan dalam nota kesepahaman yang ditandatangani ke dua belah pihak,di Gedung Rektorat ITS Surabaya,Jumat (21/06/20130.
Dalam nota kesepahaman, disepakati empat hal yang akan menjadi poin kerja sama kedua pihak. Selain mengadakan kajian teknologi kapal selam, ketiga poin lainnya adalah dalam bidang pendidikan, lingkungan dan penyelamatan lingkungan hidup.
Direktur Utama (Dirut) PT PAL (Persero), Ir M Firmansyah Arifin MM, menyebutkan bahwa kerja sama kedua belah pihak akan membawa kemajuan bagi Indonesia. Saat ini, teknologi kapal selam telah menjadi kebutuhan utama dalam mempertahankan kedaulatan bangsa.
Firmansyah membandingkan, saat ini, Malaysia telah memiliki unit kapal selam dengan teknologi getaran kecil. Dengan teknologi tersebut, kapal selam Malaysia tidak akan bisa terdeteksi radar kapal-kapal Indonesia ketika melanggar batas negara.  “Karena itu, teknologi kapal selam adalah upaya untuk mempertahankan kedaulatan bangsa,” ucap Firmansyah.
Kini, PT PAL juga tengah melakukan kerja sama transfer teknologi kapal selam dengan perusahaan asal Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering Co.
Sebanyak 206 tenaga ahli PT PAL akan dikirim untuk mempelajari proses pembangunan kapal selam di sana.
Firmansyah merinci, sebanyak 186 orang tenaga ahli akan mempelajari proses produksi kapal. “Sisanya, sebanyak 20 orang khusus mempelajari masalah desain kapal selam,” terang Firmasnyah
Sayangnya, pada proses transfer teknologi ini, Daewoo Shipbuilding and MarineEngineering Co, tidak akan membuka seluruh teknologinya kepada PT PAL. Pasalnya, tenaga PT PAL yang dikirim tidak diperkenankan untuk menyentuh alat-alat produksi. Mereka hanya diperkenankan untuk menyaksikan proses pembangunan kapal.  “Kalau saya bahasakan, mereka di sana akan learning by seeing,” ujar Firmansyah yang juga alumnus ITS ini.
Untuk itu, Firmansyah akan menyisipkan beberapa tenaga akademis dari ITS untuk turut serta dalam proses transfer teknologi dengan Daewoo. Tenaga akademisi ini akan lebih banyak mengkaji mengenai pilihan-pilihan teknologi yang diberikan oleh Daewoo.   “Belum ada kesepakatan mengenai jumh tenaga TS yang akan disisipkan,” tegasnya.
Kerja sama ini disambut baik  rektor ITS, Prof Dr Ir Tri Yogi Yuwono DEA.   Dirinya mengatakan, kerja sama dengan PT PAL merupakan sebuah kebanggaan bagi ITS. Sejak berdirinya ITS, PT PAL telah menjadi mitra kerja sama dalam menyediakan tenaga dosen bagi Fakultas Teknik Perkapalan ITS.
“Kerja sama dengan PT PAL tidak akan berakhir sampai kapan pun. Kami bangga bisa ikut membangun industri maritim di negara kepulauan ini,” kata Tri Yogi.

Sambut 24 Pesawat F-16 Bekas Amerika, TNI AU Bangun Infrastruktur di Skuadron Udara Pekanbaru

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 16:31
Komando Operasi TNI Angkatan Udara I saat ini tengah sibuk mempersiapkan kedatangan 24 unit pesawat tempur F-16 hibah dari eks Angkatan Udara Amerika Serikat. Persiapan itu antara lain pembangunan infrastruktur Skuadron Udara baru bernomor 16 di Pekanbaru, Riau, yang akan menjadi kandang F-16.

''Sekarang infrastruktur sudah dibangun, mulai dari hanggar, taxi-way, hingga persiapan lain,'' kata Panglima Komando Operasi TNI AU I, Marsekal Muda M. Syaugi, saat ditemui dalam upacara peringatan HUT Komando Operasi TNI AU ke-62 di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin, 17 Juni 2013.

Sesuai rencana, kata dia, ke 24 pesawat F-16 akan tiba di Tanah Air pada pertengahan 2014. Amerika Serikat akan mengirim 24 pesawat F-16 secara bertahap.

Menurut dia, Komando Operasi AU I bukan hanya menyiapkan infrastruktur untuk menyambut kedatangan F-16 dan alutsista lain, tapi juga menyiapkan sumber daya manusia. Salah satunya meminta masukan dari sekolah penerbangan mengenai kemampuan alutsista baru. ''Sehingga saat alutsista baru datang, awak pesawat tak terkendala lagi,'' kata mantan pilot tempur F-16, F-5, dan Hawk 100/200 ini.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro sebelumnya mengatakan, hibah 24 pesawat F-16 eks Amerika Serikat tersebut akan menambah jumlah kekuatan F-16 Indonesia yang sudah memiliki 10 unit F-16. Jadi, total, Indonesia bakal bisa dibagi menjadi dua skuadron.

Kapal AT 3 Tandai Modernisasi Alat Tempur Berat

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 15:43
Pembangunan kapal angkut tank (AT) 3 di galangan Panjang Lampung menandai tahapan modernisasi alat tempur berat. Pembangunan kapal milik TNI AL ini dilakukan oleh perusahaan swasta PT Daya Radar Utama.

Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsudin mengatakan tahapan pembangunan alat tempur ringan dan sedang berupa kapal AT 1 dan AT 2 tengah dilakukan di galangan PT Dok Koja Bahari, Jakarta.

"Kapal AT 3 ini didesain memiliki kemampuan angkut tank Leopard, yang berbobot 50 ton," ujar Wamenhan dalam acara keel laying kapal AT 3 di galangan Panjang, Lampung (18/6/2013).

Tank Leopard merupakan alat tempur TNI AD, yang diperkirakan segera datang pada Oktober 2014 untuk melengkapi alutsista TNI. Dengan demikian, katanya, kapal AT 3 sudah harus selesai dibangun sebelum Oktober 2014.

Wamenhan mengatakan AT 3 akan menjadi salah satu jawaban pada kawasan.

Sistem alat utama sistem pertahanan Indonesia sejak belasan tahun terakhir dinilai sudah ketinggalan, di antaranya karena perkembangan teknologi dunia yang berkembang cepat.

Paskhas Andalan TNI AU Dalam Operasional Alutsista

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 17:47
Komandan Lanud Sulaiman Kolonel Pnb Marsudiranto mengingatkan Pasukan Khas (Paskhas) Angkatan Udara (AU) merupakan kekuatan utama dalam bertugas mengawaki kekuatan dan kemampuan paskhas dalam pertahanan alat utama sistem senjata (alutsista) pangkalan atau instansi TNI AU. ,Korpaskhas juga mengendalikan pangkalan udara depan, pengendalian tempur, pengendalian udara depan, SAR tempur serta tugas-tugas operasi lainnya,
Hal itu dikatakan Marsudiranto sebagai inspektur upacara pada pembukaan pendidikan Sejursarta (Sekolah Kejuruan Dasar Tamtama) Pasukan Khas (Paskhas) Angkatan ke-42, Senin (10/6), yang dilaksanakan di lapangan apel staf II Lanud Sulaiman.
"Bekal dasar yang diperoleh dari pendidikan, sebaiknya terus dikembangkan seirama dengan tantangan tugas yang semakin kompleks. Selain itu tumbuhkanlah terus rasa kebanggaan bahwa apa yang para siswa lakukan saat ini merupakan suatu proses pembelajaran yang memiliki nilai strategis bagi kemajuan TNI Angkatan Udara di masa mendatang," katanya.
"Bertugas mengawaki kekuatan dan kemampuan paskhas dalam pertahanan alat utama sistem senjata (alutsista) pangkalan atau instansi TNI Angkatan Udara, pengendalian pangkalan udara depan, pengendalian tempur, pengendalian udara depan, SAR tempur serta tugas-tugas operasi lainnya, adalah unsur yang menyatu dengan alut sista TNI Angkatan Udara”, tambah Danlanud.
Paskhas harus diarahkan pada pencapaian kualifikasi yang sesuai dengan tujuan pendidikan, yaitu memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dasar, dan perilaku prajurit paskhas agar dapat bertugas sebagai pelaksana pemula. "Selain itu, para siswa diharapkan akan memiliki pengetahuan dasar taktik, teknik, dan ketrampilan dalam tingkat kesatuan kecil Paskhas," jelasnya.
Para siswa Sejursarta Paskhas Angkatan ke-42 yang berjumlah 149 orang tersebut akan melaksanakan pendidikan di Skadron Pendidikan (Skadik) 204 selama tiga bulan guna menyelesaikan 573 jam pelajaran.
Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/node/238103

India Siap Transfer Teknologi Alutsista ke Indonesia

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 11:46
Wakil Menteri Pertahanan Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin, menerima kunjungan kehormatan Duta Besar India untuk Indonesia HE Gurjit Singh di Kantor Kemhan, Jakarta, Rabu, 17 April 2013. Kedatangan Dubes India menemui Wamenhan ini adalah untuk membicarakan kemajuan hubungan kerjasama pertahanan antara kedua negara dan upaya untuk meningkatkannya. Hal ini merupakan tindak lanjut dari kunjungan Menhan India A.K Antony menemui Menhan RI Purnomo Yusgiantoro pada Oktober tahun lalu.

Dalam pertemuan ini, Wamenhan menjelaskan dalam rangka peningkatan kerjasama pertahanan kedua negara, Indonesia ingin melakukan transfer teknologi dengan industri pertahanan India karena saat ini industri pertahanan India telah sampai pada taraf advance. Sedangkan dalam hal kerjasama militer, Wamenhan berharap kedua negara dapat lebih bekerjasama dalam bidang peningkatan capacity building personelnya.

Dalam pertemuan ini Dubes India untuk Indonesia, juga menyatakan bahwa dalam upaya peningkatan kerjasama pertahanan kedua negara, India menyadari saat ini Indonesia sedang berupaya meningkatkan kemampuan alutsista dan industri pertahanan dalam negerinya. Karena itu India menawarkan joint production dan transfer teknologi dari beberapa alutsista yang diproduksinya....Selengkapnya

Pangdam Iskandar Muda Resmikan Alutsista Baru

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 02:43



Pameran Senjata Koleksi TNI

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 16:37



Sejumlah alat-alat canggih milik Detasemen Khusus Anti Teror Bravo 90 (Den Bravo) Paskhas TNI Angkatan Udara, Detasemen Jalamangkara (Denjaka) Marinir TNI AL, serta Satuan Penanggulangan Teror-81(Sat-81) Kopassus TNI AD diperlihatkan dalam acara seminar di gedung Lemhanas, Jakarta, Rabu (3/8). Alat-alat tersebut diarahkan untuk modernisasi Alutsista secara berkesinambungan dengan mengedepankan produksi dalam negeri.
Selengkapnya

TNI akan Beli 20 Unit Helikopter Black Hawk

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 19:33
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Pramono Edi Wibowo berencana akan membeli 20 unit helikopter  jenis Black Hawk buatan Amerika Serikat guna memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) di Indonesia.

“Saat ini sedang berkomunikasi dengan satuan pembuat atau negara pembuat, Insya Allah kalau diizinkan dan dana itu ada, kami akan membeli Black Hawk 20 unit dari Amerika,” kata KSDA Jenderal TNI Pramono Edi Wibowo kepada wartawan di Makodam Iskandar Muda Aceh, Senin (11/2/).

Lebih lanjut kata Pramono Edi Wibowo juga memesan 20 unit helikopter serba guna jenis Bell 412 EP. Kini dari 20 unit yang sudah dipesan, 10 unit di antaranya sudah siap semuanya.
Heli tersebut akan dijadikan cadangan pusat dan dibagi kepada satuan-satuan utama TNI AD di Indonesia guna lebih mudah untuk mengedalikan keamanan Indoneseia kedepan.

“Ini agar lebih mudah untuk mengendalikan keamanan di Indonesia,” kata Pramono.
Menurutnya, penjagaan keamanan saat ini wilayah NKRI khususnya di Aceh berlangsung dengan baik.
Kepada semua pihak di Aceh Pramono Edi Wibowo berpesan agar terus menjaga perdamaian dan keamanan untuk pembangunan Aceh lebih baik.

“Laporan Pangdam Aceh, kondisi di Aceh sangat kondusif, warga dan semua elemen terus menjaga kondisi keamanan,” katanya.

Untuk saat ini katanya, senang dengan provinsi yang pernah dilanda konflik bersenjata kondisinya keamanan sudah sangat kondusif, sehingga tidak ada keamanan khusus untuk wilayah Provinsi Aceh.
Sumber : Solopos

Mandiri Biayai Kapal Cepat Rudal Produksi Nasional Ketiga

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 22:13
Bank Mandiri kembali membiayai pembangunan kapal perang jenis kapal cepat rudal buatan dalam negeri guna memperkuat Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) nasional. Untuk itu, perusahaan menyalurkan pinjaman sebesar Rp 42,14 miliar kepada PT Palindo Marine berupa kredit modal kerja (KMK) Rp 22,67 miliar dan bank garansi Rp 19,47 miliar untuk pembangunan KRI Beladau-643.


Peresmian kapal cepat rudal, KRI Beladau-643 tersebut dilakukan oleh Menteri Pertahanan Republik Indonesia Purnomo Yusgiantoro di Dermaga Pelabuhan Batu Ampar, Batam Kepulauan Riau, Jumat (25/1) dengan disaksikan oleh Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Marsetio, dan Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Riswinandi.

Sebelumnya, Bank Mandiri telah menyalurkan pembiayaan senilai Rp 65,97 miliar untuk membangun dua unit kapal cepat rudal pertama dan kedua produksi dalam negeri, yaitu KRI Clurit dan KRI Kujang .
Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Risiwnandi mengatakan Bank Mandiri ingin terus mendukung industri strategis nasional dalam mengembangkan teknologi alutsista sehingga menciptakan kemandirian bangsa dalam memperkuat kedaulatan nasional.

“Kami bangga dengan kemampuan putra-putra bangsa di PT Palindo Marine yang telah menghasilkan kapal cepat rudal buatan dalam negeri ketiga ini. Untuk itu, kami juga telah memberikan komitmen untuk pembangunan kapal rudal cepat yang keempat,” ungkap Riswinandi

Riswinandi menjelaskan, Bank Mandiri menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 162,51 miliar untuk membantu PT Palindo Marine membangun empat kapal cepat rudal tersebut. Dari jumlah tersebut, Rp. 85,57 miliar merupakan kredit modal kerja (KMK), sedangkan Rp. 76,94 miliar adalah fasilitas bank garansi.
Riswinandi menambahkan bahwa hingga saat ini, Bank Mandiri telah menyalurkan pembiayaan untuk alutsista lebih dari Rp 1,18 triliun yang disalurkan kepada beberapa industri strategis, seperti PT Pindad dan PT Dok Kodja Bahari.

RI siap belanja alutsista dari Inggris

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 09:50
Kementerian Pertahanan (Kemhan) berencana meningkatkan pembelanjaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dengan Kementerian Pertahanan Kerajaan Inggris.  

Hal itu terungkap dalam pertemuan bilateral antara Menteri Pertahanan (Menhan) RI Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Pertahanan Inggris Phillip Hammond.  

Kepala Badan Sarana Pertahanan (Ka Baranahan) Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo mengatakan pihaknya sudah menyepakati kontrak kerja sama dengan beberapa perusahaan di Inggris untuk pengadaan alat-alat persenjataan.  

"Antara lain untuk pengadaan peluru kendali,  suku cadang untuk Sky Hawk dan tank Scorpion dan procurement," katanya.  

Dia menjelaskan kerja sama penyediaan peluru kendali untuk kepentingan TNI Angkatan Darat telah ditandatangani pada akhir tahun lalu.  "Itu peluru kendali yang short tapi bagus untuk Angkatan Darat.  Sudah ditandatangani kontraknya," ungkap dia.  

Hanya saja,  Ediwan mengaku tidak ingat total kebutuhan dana rencana pembelian sistem persenjataan di Inggris.  "Tapi rata-rata harganya sekitar US$ 4 juta-US$ 10 juta per satuan,  misalnya Scorpion,  Engine,  Hawk,  suku cadang pesawat,  dan sebagainya," jelas dia.  
sumber : http://www.tender-indonesia.com

37 Tank Rusia Lengkapi Alutsista Menkav-1 Marinir

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 13:42
Seiring perkembangan jaman alutsista TNI AL juga terus mendapat perhatian. Kali ini Resimen Kavaleri-1 Marinir  memesan 37 unit ranpur berupa Tank BMP 3F buatan Rusia untuk melengkapi alutsista yang sudah ada.

"Ada 37 unit ranpur tank BMP 3F yang sudah dipesan, sebelumnya ada 17 tank yang sudah bergabung di Menkav-1," jelas Danmenkav -1 Marinir, Kolonel Mar Sarjito, usai sertijab Komandan Yontankfib-1 Marinir di Bhumi Marinir Karangpilang, Senin (17/12).

Menurutnya kendaraan tempur yang segera datang merupakan tank canggih namun mudah dioperasionalkan. Persenjataan yang melengkapi ranpur tersebut antara lain tiga jenis senjata yakni kaliber 100 mm, 30 mm dan 7,62 mm.
"Kendaraan tempur ini juga sudah dilengkapi otomatis hidrolis serta semua peralatannya computerized,". Papar Sarjito.

Menurutnya di Menkav-1 secara keseluruhan ada 206 tank, seluruh kendaraan tempur dan persenjataan ini siap digunakan untuk mendukung operasional dan latihan. Selain pengadaan tank baru, pihaknya juga melakukan modifikasi tank yang sudah lama. "Ada sekitar 1 kompi tank yang sudah dimodifikasi," lanjutnya. Modifikasi yang dilakukan ini menyangkut persenjataan dan sistim pengoperasiannya.
http://surabaya.tribunnews.com/2012/12/17/37-tank-rusia-lengkapi-alutsista-menkav-1-marinir

PAL INDONESIA Produksi Kapal Perusak Januari 2013

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 20:24
PT PAL Indonesia mulai membangun satu unit kapal Perusak Kawal Rudal 10514 hasil kerja sama dengan Damen Schelde Naval Shipbuilding, Belanda pada Januari tahun depan.

Direktur Perencanaan dan Pengembangan Usaha PAL Indonesia Eko Prasetyanto mengatakan perseroan memiliki empat divisi usaha yakni Kapal Perang, Kapal Niaga, Perbaikan dan Perawatan, dan Rekayasa Umum.

Divisi Kapal Perang ini memproduksi kapal perang yang mendukung alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan salah satu kontrak yang akan dikerjakan ialah kontrak kapal PKR senilai 7 juta euro itu dengan menggandeng Damen, galangan kapal dari Belanda.

“Kami juga akan mulai kerjakan pada Januari 2013 yakni kapal perusak rudal kerja sama dengan Damen. Kontraknya kami berdua, nilai totalnya 7 juta euro,” katanya ditemui Bisnis, baru—baru ini.

Dia menjelaskan mekanisme pembuatan kapal yang akan memperkuat alutsista Indonesia itu terdiri dari enam modul. Dari jumlah itu, dua modul akan dikerjakan di Belanda, sedangkan empat modul akan dikerjakan di Surabaya.

“Nah setelah jadi modul—modulnya, dua dari Belanda, empat dari kita maka nanti akan digabung, disimulasikan,” katanya.

Kontrak berskema joint production antara PAL Indonesia dan Damen ditandatangani oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) Kementerian Pertahanan Mayjen TNI Ediwan Prabowo dengan Direktur Damen Evert Van den Broek pada awal Juni lalu.

PAL Indonesia dulunya bernama Marine Establishment dan diresmikan oleh Pemerintah Belanda pada 1939. Beralih nama menjadi Kaigun SE 2124 saat pendudukan Jepang dan setelah Indonesia merdeka dinasionalisasi menjadi Penataran Angkatan Laut (PAL) hingga menjadi perseroan terbatas.
Adapun Damen Schelde adalah galangan kapal yang mendesain dan mengkonstruksi kapal angkatan laut dan kapal komersil.

Dibangun pada 1875 dan pada 2000 menjadi anggota Damen Shipyard Group. Grup ini terdiri dari lebih 30 galangan kapal besar. Grup ini membangun lebih dari 4.000 kapal komersil dan militer, saat ini didukung hampir 8.500 karyawan ahli dan omset tahunan hampir 1,5 miliar euro.

Menurut Eko Damen memutuskan mentranfer teknologi dalam konstruksi dan pembangunan Kapal PKR tersebut kepada PAL Indonesia.

Kerja sama tersebut, katanya, adalah awal yang baik dari industri pertahanan dalam negeri, khususnya bagi perseroan dalam mengembangkan kemandirian alat utama sistem senjata.

Selain itu, kerja sama itu juga sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam rencana induk revitalisasi industri pertahanan dalam rangka mendorong dan meningkatkan industri pertahanan dalam negeri.

Kapal PKR 10514 ini dilengkapi dengan mesin utama 2x diesel engine, 2x E Drive (CODOE). Diesel Generator 4x715 kw, dan 2x435 kw, dan Gear Box CODOE, heavy duty. Combat System, yaitu persenjataan antiserangan udara, antiserangan kapal selam, dan antiserangan kapal atas air.

Selain PKR itu, PAL Indonesia juga tengah membangun Kapal Cepat Rudal KCR-60 dan melakukan perbaikan atas Kapal Geomarine milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Di sisi lain pada Divisi Kapal Niaga, fokus pasar diarahkan pada internasional, pengembangan model industri pelayaran nasional, dan pelayaran perintis bagi penumpang dan barang (kargo). Kapasitas produksi per tahun saat ini mencapai tiga unit kapal dengan ukuran 50,000 DWT dan dua unit kapal dengan ukuran 20,000 DWT per tahun. (bas)(Foto:indonesiandefense.blogspot.com)

Era Kebangkitan Industri Pertahanan

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 20:18
Memiliki pertahanan yang tangguh adalah sebuah kebutuhan mendasar bagi setiap bangsa.
Kemampuan pertahanan tidak saja penting dalam menjaga keselamatan bangsa, tetapi juga simbol kekuatan serta sarana untuk menggapai cita-cita, tujuan, ataupun kepentingan nasional.
Efektivitas pertahanan negara turut ditentukan juga oleh kemampuan industri pertahanan dalam memenuhi kebutuhan pengadaan dan pemeliharaan alat utama sistem senjata (alutsista) secara mandiri. Oleh sebab itu, industri pertahanan perlu dibangun melalui revitalisasi industri pertahanan.
Setelah Presiden SBY memberikan arahan revitalisasi industri pertahanan di Kementerian Pertahanan tahun 2004, sejak saat itu mesin dari semua pemangku kepentingan segera bekerja. Kementerian Pertahanan sebagai pembuat regulasi dan kebijaksanaan pembinaan industri pertahanan, TNI sebagai pengguna, dan industri pertahanan sebagai produsen dalam negeri menyatu dalam target merevitalisasi industri pertahanan untuk membangkitkan kekuatan industri pertahanan dalam negeri.
Berbagai langkah, strategi, dan regulasi segera diambil. Pemerintah yang diperankan oleh Bappenas, Kementerian BUMN, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Pertahanan bersama TNI dan Polri serta instansi pemerintah lain sebagai pengguna, segera menerjemahkannya.
Presiden pada 2010 telah membentuk suatu badan kebijakan nasional industri pertahanan yang disebut Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP). Tugas yang diemban oleh KKIP adalah mengembangkan kemampuan industri pertahanan dalam negeri, baik alutsista maupun non-alutsista.
Sejak saat itu Indonesia sebenarnya telah memiliki visi, misi, dan strategi dasar pembangunan industri pertahanan. Apalagi pemerintah dan DPR pada 2012 menetapkan Undang-Undang Nomor 16 tentang Industri Pertahanan Negara sebagai legalisasi dan legitimasi menghidupkan dan mengembangkan industri pertahanan dalam negeri.
Industri pertahanan
Suatu negara yang kuat akan sangat dipengaruhi oleh kekuatan industri teknologi pertahanan yang mandiri. Filosofi ini penting untuk mendukung misi negara menjaga kedaulatan negara dan keutuhan wilayah.
Presiden melihat kebangkitan industri pertahanan dalam negeri dan untuk semakin mendorong tumbuhnya industri pertahanan dalam negeri, presiden bahkan menggariskan beberapa kebijakan teknis.
Pertama mewajibkan pengguna dalam negeri memakai produksi dalam negeri untuk alutsista dan non-alutsista. TNI dan Polri serta instansi pemerintah lainnya diwajibkan memakai produksi dalam negeri manakala kebutuhan tersebut dapat diproduksi oleh kita sendiri.
Kedua, manakala harus membeli dari luar negeri, maka persyaratannya adalah produksi dalam negeri belum mampu memenuhi spesifikasi teknis dan kebutuhan operasional dari pengguna yang perlu teknologi tinggi. Namun, pembelian dari luar negeri harus ditambah persyaratan transfer teknologi dan ofset dari negara pemasok kepada industri pertahanan dalam negeri.
Ketiga, pembelian dari luar negeri tidak boleh mendikte secara politik terhadap negara dalam membeli peralatan militer.
Sebagai pembina industri pertahanan, Kemhan berkepentingan memberikan peluang kepada industri pertahanan dalam negeri untuk memasok kebutuhan. Bahkan, Kemhan mendorong industri pertahanan dalam negeri untuk bisa ekspor produk mereka ke luar negeri.
Kemampuan industri dalam negeri kita sekarang ini sudah pada tingkat teknologi menengah. Artinya, industri pertahanan kita sudah dapat membuat dan sudah digunakan oleh TNI.
Sebagai contoh, alutsista darat buatan PT Pindad mulai dari pistol dan senjata serbu sampai mortir serta kendaraan tempur roda ban (panser Anoa) sudah mendukung kebutuhan TNI AD. Bahkan, produk PT Pindad itu sekarang sudah berstandardisasi PBB, demikian juga kendaraan taktis pengintainya.
Saat ini sedang berlangsung pembaruan kendaraan tempur roda rantai (tank AMX-13) yang merupakan awal membangun tank ringan. Setelah itu diharapkan kita bisa membuat sendiri tank ringan sampai berat.
Saat membeli tank berat (MBT Leopard) dari Jerman, dalam paket kontrak ada klausul transfer teknologi. Pihak Jerman menyetujui dalam pemeliharaan pascajual, artinya kita akan mendapat kesempatan melakukan didampingi pihak produsen.
Untuk alutsista udara, PT Dirgantara Indonesia kini sedang mengembangkan kerja sama produksi dengan Airbus Military untuk membangun pesawat angkut sedang CN 295. Kita sangat berkepentingan untuk meningkatkan kemampuan memproduksi pesawat angkut ringan, seperti C-212, CN 235, dan CN 295, yang bermuatan 50 penerjun.
Hal yang sama kita lakukan dalam pembuatan helikopter serbu Bell-412 dan heli Cougar 725. PT Dirgantara Indonesia diharapkan bisa memenuhi sebagian kebutuhan dari TNI dan cocok untuk operasi kemanusiaan.
Di sisi alutsista laut, kita bahkan memiliki beberapa industri pertahanan dalam negeri yang bisa diandalkan. PT PAL diandalkan untuk pembuatan kapal perang skala besar, seperti class korvet dan kapal selam. PT PAL juga didorong untuk membuat kapal perang untuk tanker.
Kita juga memiliki badan usaha milik negara yang lain, yaitu PT Dok dan Perkapalan Kodja Bahari. BUMN ini kita beri porsi untuk membangun Landing Ship Tank atau kapal pengangkut tank ringan dan sedang.
Industri pertahanan swasta juga sudah memberikan kontribusi besar untuk kapal patroli cepat ukuran 60 meter ke bawah, seperti Palindo, Lundin, Anugrah. Bila berkualitas, peluang yang sama juga diberikan kepada beberapa galangan swasta lain di dalam negeri. Alokasi anggaran kepada industri pertahanan cukup besar dalam rencana strategis 2010– 2014, minimal Rp 5,4 triliun.
Peluang ini sekaligus menjadi tantangan bagi industri pertahanan dalam negeri untuk meningkatkan kualitas manajemen agar mampu memenuhi persyaratan kualitas, waktu distribusi, dan harga yang bersaing. Tanpa ada profesionalisme dalam pengelolaan perusahaan dan keuangan, semua peluang yang ada ini tidak akan bisa termanfaatkan bahkan terlewat tanpa makna.
Saat ini industri pertahanan PT PAL bahkan perlu untuk merekrut tenaga terampil umur 18–20 tahun agar mereka siap digunakan dalam pembangunan kapal selam, yang diharapkan bisa kita lakukan tahun 2020.
Hal kritis dalam pembangunan industri pertahanan dalam negeri adalah pengawakan manajemen yang unggul dan kemampuan untuk mengeliminasi parasit dalam manajemen industri pertahanan dan meniadakan peran ”broker” yang berdampak pada penggelembungan biaya.
Manajemen industri pertahanan jangan pernah memberikan peluang distorsi internal dan eksternal yang hanya menimbulkan kerusakan manajemen. Aturan yang mengharuskan kita membeli langsung ke pabrikan dan menjual langsung kepada pembeli adalah cara paling tepat untuk efisiensi dan manfaat.
Bila kita mau, Indonesia pasti sanggup menjadi kekuatan regional yang didukung oleh kemampuan industri teknologi pertahanan dalam negeri.
Sjafrie Sjamsoeddin Wakil Menteri Pertahanan RI; Sekretaris Komite Kebijakan Industri Pertahanan
 
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
Hindra

Iran Miliki Drone Tercanggih Pertama di Dunia

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 23:47
Amerika Serikat dan Israel dipastikan makin sewot dengan prestasi teknologi yang diraih Iran. Para ahli Negeri Para Mullah berhasil memproduksi drone (VTOL) yang mampu take off (lepas landas) dan landing secara vertikal.
 
Drone versi ini adalah yang pertama di dunia dan bakal segera diluncurkan pada Sabtu (10/11/2012) mendatang.


Dilansir Mehr, Minggu (04/11/2012), Abbas Jam, tenaga ahli Iran, drone jenis ini tidak membutuhkan landasan pacu untuk terbang dan mendarat. Drone terbaru ini menggunakan sistem teknologi ultra-canggih dan dilengkapi sistem navigasi yang terbaik di antara drone produksi Iran lainnya.

Pihak otoritas Iran menegaskan, drone tercanggih milik Iran itu akan dipamerkan pada 31 Januari tahun depan, bertepatan dengan ulang tahun kemenangan Revolusi Islam ke-34.

Alutsista Produksi Indonesia Diminati Negara Luar

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 23:41
Indonesia patut berbangga. Pasalnya, alat utama sistem persenjataan (alutsista) produksi Indonesia, ternyata diminati negara-negara luar.
Untuk kendaraan tempur misalnya, yang diproduksi PT Sentra Surya Ekajaya (SSE), tanpa banyak terekspos produknya sudah dipakai TNI Angkatan Darat dan Angkatan Laut, serta digunakan militer Srilanka.

Begitupun dengan alutsista buatan dalam negeri lainnya, ternyata diminati sejumlah negara dari luar. Hal itu dapat terlihat banyaknya peminat di ajang Indo Defence Expo and Forum 2012 yang memamerkan alat utama sistem senjata (alutsista) dalam negeri, tanggal 7-10 Nopember 2012.
Indo Defence Expo and Forum 2012 cukup memberikan dampak berarti bagi pengenalan dan pemasaran produk mereka. Melalui kegiatan dwitahunan berharap bisa meningkatkan peluang bagi industri pertahanan dalam negeri untuk lebih berkembang.

Menurut Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Kolonel Kav Bambang Hartawan sebagaimana dirilis Seputar Indonesia, secara umum target penyelenggaraan Indon Defence 2012 tercapai dilihat dari tingkat partisipannya yang cukup banyak sehingga memberi kesempatan Indonesia untuk sharing dengan negara lain dalam bidang promosi industri pertahanan. “Lewat ini kita juga diakui di dunia, tidak saja di Asia, sebagai penyelenggaran expo produk pertahanan,” katanya di Jakarta,kemarin.
Bambang menerangkan,expo pertahanan berbeda dengan expo produk-produk lainnya seperti furniture,misalnya. Expo semacam ini tidak bisa diketahui nilai transaksi karena pengadaan alat pertahanan membutuhkan proses yang panjang dan dipengaruhi oleh kebijakan politik masing-masing negara, baik penjual maupun pembeli.

Ajang ini, lanjut dia, lebih tepatnya untuk menjembatani bertemunya produsen dengan calon pembeli. “Kalau ada yang berminat, paling mereka mendapatkan contact point. Selanjutnya yang berminat ini pasti akan membicarakan dulu dengan pemerintahannya, kemudian mereka menindaklanjuti sendiri,” terangnya.
Meski demikian, kegiatan ini tetap memberi dampak positif secara ekonomi maupun citra Indonesia. “Banyaknya orang asing itu juga membelanjakan uangnya di sini. Ini juga membawa nama baik industri pertahanan kita dan menunjukkan stabilitas keamanan kita meningkat,”imbuhnya.

Managing Director PT Palindo Marine Harmanto mengungkapkan, selama kegiatan berlangsung, banyak peminat yang ingin bekerjasama dengan perusahaannya dalam penyediaan kapal. Sejauh ini sebagian besar peminat berasal dari luar negeri.“Ada dari Malaysia ada dari Timor Leste,” katanya mencontohkan.
Dia menuturkan,sejak dibuka pada 7 November dan ditutup 10 November kemarin, ada banyak kunjungan ke stan perusahaannya.“ Kunjungan dari luar negeri juga banyak jadi kita bisa mempromosikan produk kita. Kita ada target (kerja sama) tapi tentu itu tidak bisa langsung di sini karena ini bukan barang kecil,”katanya.

Menurut Operation Manager PT SSE David Agahari,pada ajang ini PT SSE juga memerkenalkan produk terbaru tak mau kalah dengan PT Pindad yang merupakan industri pertahanan milik pemerintah. Kendaraan tempur yang diproduksi PT SSE juga memiliki kemampuan seseuai kebutuhan TNI, misalnya antipeluru dan memiliki kemampuan manuver yang baik.

Rantis Komodo 

Di hari terakhir pameran, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyempatkan diri untuk mengunjungi pameran sekaligus menamai produk kendaraan taktis (rantis) buatan PT Pindad.
“Kendaraan taktis karya putra-putri Indonesia yang, insya Allah, akan menjadi kendaraan taktis yang handal, bisa bergerak di segala cuaca bertempur di medan-medan Indonesia. Saya beri nama Komodo,”ujar SBY.

Nama Komodo dipilih karena binatang ini sangat perkasa dan populasinya hanya ada di Indonesia.
“ Semoga kendaraan taktis ini benar-benar handal,bisa bertempur dan tentu membawa kemenangan dan kejayaan bagi Indonesia,” tambahnya.
Kendaraan Komodo ini menggunakan mesin diesel turbo intercooler memiliki transmisi manual enam maju satu mundur.

Kendaraan yang terdiri dari beberapa varian itu memiliki deferensi lock sehingga memiliki kemampuan offroad yang baik. Badan kendaraan taktis ini mengunakan body monocoque dan memiliki ketahanan terhadap tembakan senjata 7,62 mm.
http://bugisposonline.com

Avibras Astros II, Roket Penyapu Musuh Asal Brazil

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 19:02
Solopos - Salah satu senjata terbaru unggulan TNI AD selain tank canggih Leopard 2 adalah sistem peluncuran roket massal Astros II (Artillery Saturation Rocket System). Senjata kategori MLRS (multiple launch rocket system) ini berasal dari Brazil. Berarti makin banyak senjata asal Negeri Samba ini yang memperkuat TNI setelah pesawat tempur taktis antigerilya Super Tucano yang sudah mulai bergabung dengan TNI AU.
Seperti diungkapkan oleh Army-Technology.com, Astros mulai dikembangkan Avibras Aerospacial SA yang bermarkas di Sao Paulo, Brazil di tahun 1980-an, dengan pelanggan pertamanya AD Brazil sendiri dan Arab Saudi. Di awal 200-an AD Malaysia pun menyatakan minat dan lantas membelinya. Biacara soal kemampuan, sistem peluncur roket berlaras banyak ini sudah membuktikannya saat Perang Teluk I tahun 1991 di mana AD Arab Saudi yang berperan menggotongnya ke medan perang untuk menghadapi pasukan Irak.
Sistem peluncuran Astros II ini dibopong oleh truk segala medan AV-VBA berpenggerak 6×6, yang dibuat Tectran Engenharia, salah satu anak perusahaan Avibras di Sao Jose dos Campos, Brazil. Truk ini bisa dipacu hingga kecepatan 90km/jam dan ditenagai mesin disel Mercedes-Benz 280 tenaga kuda. Setiap satuan peluncur akan terdiri atas unit peluncur roket AV-LMU yang bisa melepaskan lima jenis roket dengan kaliber berbeda, unit pembawa roket AV-RMD untuk pemasokan ulang yang bisa membawa dua set modul roket siap tembak serta unit komando peluncuran AV-VCC yang mengoordinasikan operasi penembakan. Satuan ini juga dilengkapi unit perawatan serta unit kendali tambahan AV-UCF untuk koordinasi operasi dengan radar dan komputer.
Astros II juga bisa dioperasikan sebagai sistem pertahanan pantai dengan menambahkan unit kendali AV-CBO yang khusus untuk kebutuhan itu. Satu satuan atau baterai peluncuran biasanya terdiri atas enam unit peluncur AV-LMU, enam unit pemasok amunisi AV-RMD dan satu unit komando AV-UCF. Kendaraan komando dan kendali serta dua kendaraan perawatan atau bengkel lapangan biasanya akan ditempatkan di markas satuan.
Lantas roket apa saja yang bisa ditembakkan dari sistem peluncur itu? Avibras menyediakan sejumlah varian yaitu :
– Roket SS-30, kaliber 127mm, bisa dimuat hingga 32 buah per peluncur dan berdaya jangkau 9-30km.
– Roket SS-40, kaliber 180mm, bisa dimuat hingga 16 buah per peluncur dan berdaya jangkau 15-35km
– Roket SS-60/SS-80, kaliber 300mm, bisa dimuat empat buah per peluncur dan berdaya jangkau 20-80km
Avibras juga tengah mengembangkan rudal taktis yang bisa diluncurkan dari Astros II ini yaitu rudal Astros TM yang bisa menjangkau hingga 300km dan bisa dipasangi segala jenis hulu ledak.

Komodo Kenderaan Taktis Buatan Indonesia

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 23:57
Kendaraan taktis ini merupakan karya putra-putri bangsa yang bisa bergerak di segala bidang, cuaca, dan medan di Indonesia.

'Komodo' akan menjadi salah satu alat utama sistem persenjataan (alutsista) baru, yang bakal menambah kekuatan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Jangan salah, Komodo yang ini bukanlah hewan langka yang hanya ada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Nama yang satu ini, merupakan kendaraan taktis 4x4 yang baru diluncurkan oleh perusahaan pertahanan dalam negeri yaitu PT Pindad.

Kendaraan berwarna hitam ini, diberikan nama khusus oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang datang berkunjung di hari terakhir penyelenggaraan Indo Defence 2012 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu (10/11).

Dalam kesempatan itu, SBY mengatakan bahwa kendaraan taktis ini merupakan karya putra-putri bangsa yang diharapkan bisa menjadi kendaraan yang andal, bisa bergerak di segala bidang, cuaca, dan di segala medan di Indonesia.

"Saya beri nama Komodo. Komodo adalah binatang yang perkasa, yang di seluruh dunia adanya (hanya) di negeri kita di Indonesia," ungkap SBY, di sela-sela kegiatannya meninjau Indo Defence 2012 yang memamerkan berbagai alutsista milik Indonesia, hari ini.

"Semoga kendaraan taktis ini benar-benar andal, bisa bertempur, dan tentu membawa kemenangan dan kejayaan bagi Indonesia," sambung SBY pula.

Didampingi Menteri Pertahanan (Menhan) Purnomo Yusgiantoro, SBY sengaja datang melihat dan meninjau langsung kendaraan taktis berbobot 10.000 kilogram yang bisa membawa hingga 12 orang ini.

Disebutkan, PT Pindad memang sengaja memproduksi Komodo berdasarkan perintah SBY untuk membuat kendaraan yang memiliki kemampuan tinggi (high level) seperti Intai Sherpa, yang dapat digunakan untuk kendaraan operasional seluruh angkatan di TNI dan Polri. Komodo diklaim memiliki kemampuan offroad yang baik dan kendaraan taktis ini mengunakan body monocoque, serta memiliki ketahanan terhadap tembakan senjata 7,62 mm.

Komodo sendiri dipajang di arena parkir tengah JIExpo, bersama dengan alutsista lainnya seperti Tank Leopard dari Jerman yang menjadi bintang dalam pameran ini.

Pameran Indo Defence 2012 ini diikuti oleh 50 negara dan 600 perusahaan dalam dan luar negeri, yang memamerkan teknologi terkini dari sistem pertahanan dan keamanan. Termasuk di antaranya adalah PT Dirgantara Indonesia, PT PAL, PT Pindad, PT LEN, Lockheed Martin, hingga industri pertahanan negara berkembang lainnya.
http://www.beritasatu.com

AS Setuju Jual Apache ke Indonesia

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 16:17
Kongres AS dikabarkan sudah memberikan nota dukungan agar pemerintah AS memproses penjualan helikopter serbu Apache ke Indonesia.


Anggota Komisi I DPR Helmy Fauzi menyatakan amat mungkin militer Indonesia untuk bisa membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari Amerika Serikat (AS). Sebab dikatakan, anggota DPR AS pasti akan mendukung.

Helmy merasa yakin Senat dan Kongres AS akan mendukung penjualan senjata ke Indonesia, setelah Richard Lugar yang dia sebut sebagai senator paling senior di AS, berkunjung ke Gedung DPR, Jakarta, Rabu (31/10) kemarin. Richard datang bersama Dubes AS Scot Marciel, dan sempat bertemu dengan sejumlah anggota Komisi I DPR.

Dalam pertemuan itu, ketika ditanya soal peningkatan kerja sama militer Indonesia-AS, Lugas mengatakan dirinya sangat mendukung upaya untuk secara penuh meningkatkan kerja sama pertahanan antara kedua negara. Kerja sama itu (antara lain) dalam bentuk program pertukaran perwira belajar dan latihan militer bersama.

"Pada kesempatan itu, dia juga menegaskan (bahwa) Senat AS tidak ada keberatan terhadap penjualan alutsista ke Indonesia, termasuk rencana penjualan helikopter serbu Apache ke Indonesia," kata Helmy di Jakarta, Kamis (1/11).

Sikap parlemen AS itu semakin ditegaskan oleh Dubes AS Scot Marciel, yang menyatakan Kongres AS sudah mengirimkan nota kongres ke pemerintah AS, tidak ada keberatan kongres terhadap penjualan helikopter Apache ke Indonesia.

"Ini artinya, terbuka kemungkinan bagi Indonesia membeli langsung dari AS. Kesempatan itu pun sudah pernah disampaikan Menlu AS Hillary Clinton, saat ketemu Menlu Indonesia," beber Helmy.

Helmy pun mengatakan, dukungan senator senior AS itu perlu diapresiasi, karena sebelumnya Indonesia selalu diembargo apabila hendak membeli senjata mereka.

Sebagai latar belakang, kata Helmy, pembelian helikopter Apache sudah pernah disampaikan Kementerian Pertahanan (Kemenhan), cuma kemudian ditunda karena dana yang ada diprioritaskan bagi pemenuhan kesejahteraan prajurit, khususnya perbaikan rumah prajurit.

"Tapi kalau nanti pada waktunya ada anggaran, pasti ada kesempatan untuk itu," kata Helmy. 
http://www.beritasatu.com

Dua Tank Leopard Tiba di Jakarta

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 16:12
Dua main battle tank Leopard buatan Jerman yang dipesan Kementerian Pertahanan telah tiba di Jakarta. Kedua tank berjenis Revolution (Ri) tersebut tiba melalui Pelabuhan Tanjung Priok dan kini telah siap dipamerkan dalam ajang pameran industri pertahanan Indodefence yang berlangsung di Pekan Raya Jakarta Kemayoran, Jakarta Pusat mulai Rabu (7/11/12) hingga Hari Pahlawan 10 November mendatang. Kedatangan tank tersebut adalah awal dari pengiriman total 61 tank Leopard Ri dan 42 Leopard 2A4 dalam rangka memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) Republik Indonesia.
Proses produksi puluhan Leopard lainnya masih berlangsung di pabriknya Rheinmettal di Jerman. Tank berat itu akan dikirim secara bertahap sesuai dengan jumlah pesanan pemerintah Indonesia. Penampatan tank nantinya akan diserahkan kepada TNI AD dengan tetap berkoordinasi dengan Kemhan. "Kedatangan itu akan membuat tank kita menjadi komplit," ujar Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, Selasa (6/11/12).
Seperti diberitakan, pembelian tank Leopard yang sempat mengundang kontroversi itu disebut-sebut pemerintah sebagai upaya untuk terus memperkuat alutsista dalam membangun kekuatan pokok minimum (minimum essential force/MEF) di tubuh TNI. Setelah gagal membeli Leopard dari Belanda karena ditentang Parlemen setempat, pemerintah akhirnya membeli tank Leopard dari Jerman dengan harga 1,7 juta dolar AS (Rp 16,4 miliar) per unit untuk Leopard Ri dan 700 ribu dolar AS (Rp 6,7 miliar) per unit untuk Leopard 2A4.
Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia, Edy Prasetyono mengatakan bahwa Indonesia sudah saatnya memperkuat alutsista melampaui MEF. Pasalnya, di kawasan Asia Tenggara, Indonesia sebagai negara terbesar seharusnya tampil juga menjadi negara terkuat.

http://www.pikiran-rakyat.com/node/210166

Indonesia Akan Produksi Alutsista Canggih

Ahmad Ridoan Pasid-XP Updated at : 18:09
Revitalisasi industri pertahanan akan menyerap tenaga kerja terdidik untuk membuat peralatan pertahanan. Setelah disahkannya UU tentang Industri Pertahanan, setiap industri pertahanan mesti memiliki roadmap jangka pendek, menengah, dan panjang yang komprehensif dalam menyerap tenaga kerja dalam negeri yang berkualitas.

"Ini peluang bagi SDM terbaik bangsa Indonesia untuk terlibat dalam membuat alat utama sistem pertahanan (alutsista) yang canggih melalui industri pertahanan, baik di BUMN maupun swasta," kata anggota Komisi I DPR, Almuzzammil Yusuf, di Jakarta, Selasa (9/10).

Dia berharap suatu saat akan ada alutsista yang canggih buatan anak bangsa yang digunakan untuk membangun kekuatan pertahanan Indonesia dan membuat negara lain bangga dengan kualitas SDM Indonesia. Pemerintah, melalui Komite Kebijakan Industri Pertahanan, hendakanya serius mewujudkan kemandirian dan kemajuan industri pertahanan dalam negeri.

Berkembangnya industri pertahanan akan mampu mengurangi tingkat pengangguran terbuka, terutama dari kalangan terdidik. Dia melihat UU Industri Pertahanan menuntut industri pertahanan maju dan mandiri sehingga mampu menyerap tenaga kerja terdidik dalam negeri dalam jumlah besar.

"Fungsi Industri Pertahanan untuk menyerap tenaga kerja sudah tercantum dalam UU tersebut pada Pasal 4 Huruf c," jelas anggota Panitia Kerja RUU Industri Pertahanan ini. Berdasarkan data BPS, hingga Februari 2012, tingkat pengangguran terbuka mencapai 6,32 persen dengan jumlah total penganggur mencapai 7,6 juta orang.

Untuk tingkat pengangguran terbuka, tingkat pendidikan diploma dan sarjana, masing-masing 7,5 persen dan 6,95 persen dari angka pengangguran. "Kami berharap setelah dilakukan revitalisasi terhadap industri pertahanan, pengangguran terdidik dapat terserap sekitar 5 sampai 10 persen. Ini penting agar tidak terjadi brain drain di mana SDM terbaik bangsa ini lebih memilih bekerja di luar negeri dibandingkan di dalam negeri," paparnya.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan disahkannya UU Industri Pertahanan merupakan kado ulang tahun manis menyambut hari jadi ke-67 TNI. Presiden berharap UU itu mampu menghidupkan kembali industri pertahanan dalam negeri. nsf/P-3

 

Google+ Followers

Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Pasid-XP - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger